Che-O
Ingatkah kita pernah bersama
Meski waktu terkadang pongah melantik dan mengusir
Sempoa dapat menghitung hari demi hari kita
Namun rintik hujan yang pernah membasahi tak terhitung jumlahnya
Pernah kita berada di hiruk pikuk sesak
Keringat bercampur warna merah pada muka
Padang ilalang mimpi kita
Mencari lorong-lorong untuk terlelap dan bermimpi
Setelah lelah hilang, kita kembali berlari
Menertawakan diri sendiri
Saat orang lain menjadi ejekan
Bersamamu pecundang itu mereka yang berdasi
Bersamamu neraka itu menjadi tempat yang tidak sunyi
Bersamamu pencaci itu bukan masalah bagaimana menghadapi
Kau bilang, mereka hanya iri
Terbayangkah sepasang nenek tua yang cekakakan di samping meja di resto faforit kita
Saat itu kita hening, dan kau lalu ikut tertawa
"Hey, bangsat! Mereka itu kita," katamu
Dan aku menjawab, "yah, empat puluh tahun ke depan."
Ingat puisiku yang tidak mahir
Karna kau bukan penerjemah puisi yang paten
Persahabatan itu seperti romansa cinta yang bisa tumbuh, dekat, marah, pisah
Tapi bagiku, kau sahabatku sampai tua
Jika Tuhan berkenan di hari ke depan
Kita akan hirup kopi bersama di teras dingin
Di bawah rintik hujan tanpa gemuruh, tanpa badai
Tidak peduli keriput masih putih atau berubah kusam
Ingat aku, ingat puisiku
Di saat waktu pongah mengusir kita di dua arah...
Juli, 2017